GALERI hobi-koleksi-bisnis-investasi

GALERI hobi-koleksi-bisnis-investasi
Buat Yang Mau Mulai Koleksi dan Mau Nambahin Koleksi Uang Kuno nya Silahkan Mampir di WARUNG ONLINE Terbaru Kami...BELANJA MUDAH DAN MURAH hanya di KUNO-KINI

Melilea Organik Online Shop

Melilea Organik Online Shop
Pengganti Makanan Sehari-hari,Cukup Konsumsi MELILEA GREENFIELD ORGANIC

Cari di Blog ini

Memuat...

26 Januari 2012

ON SALE NOW !!! MISCUT MISPRINT Uang Salah Cetak dan Salah Potong serta Error




5000 Seri Imam Bondjol 2009
Kondisi VF ++
MISCUT Ada Kelebihan Kertas Bahan Baku nya lho...
Rp.280.000


10.000 Seri Emisi 2010
Kondisi UNC/BARU
MISPRINT Bagian Belakang Gambar Rumah BLANK
Rp.350.0000
  
 20.000 Seri Oto Iskandar Dinata 2009
Kondisi XF ++
MISCUT Ada Kelebihan Kertas Bahan Baku nya lho...
Rp.280.000

 
 
  20.000 Seri Oto Iskandar Dinata 2009
Kondisi UNC
MISCUT Ada Kelebihan Kertas Bahan Baku nya lho...
Rp.325.000










 50.000 Seri Soeharto 1995
Kondisi VF ++
MISPRINT No Seri Bagian Atas Tidak Tercetak sebagian
Rp.350.000










  50.000 Seri Soeharto 1995

Kondisi XF ++

MISPRINT No Seri Tercetak diatas kiris seharusnya dibawah
Rp.500.000


 
 
 50.000 Seri I gusti Ngurah rai 2009
Kondisi XF ++
MISPRINT Bagian Belakang BLANK Hanya Ada No Seri
Rp.380.000  

  50.000 Seri I gusti Ngurah rai 2009
Kondisi UNC
MISCUT 2 Lembar Dengan No Seri PENGGANTI URUT PREFIX
Rp.400.000



  50.000 Seri I gusti Ngurah rai 2009
Kondisi UNC
MISCUT Ada Kelebihan Bahan Baku dan No Seri Sebagian tidak tercetak 
Rp.380.000



 
  
100.000 Seri Soekarno Hatta 2011
Kondisi UNC
MISCUT Ada Kelebihan Bahan Baku dan No Seri Sebagian tidak tercetak 
Rp.380.000


 100.000 Seri Emisi 2004
Kondisi UNC/BARU
MISPRINT Bagian Belakang BERGESER ketika DICETAK
Sehingga Sebgian MARGIN pindah Ke Kiri
Selain MISPRINT dan MISCUT Koleksi ini Memiliki 
NO SERI PENGGANTI/REPLACEMENT
3 Lembar BERNOMOR SERI SAMA !!! Hanya Beda Huruf AWAL
Rp.1.250.0000

02 Januari 2012

Uang Lama Harta Karun Peninggalan Penumpang TITANIC di Lelang



RICHMOND, Virginia (AP) — The owner of the largest trove of artifacts salvaged from the Titanic is putting the vast collection up for auction as a single lot in 2012, the 100th anniversary of the world's most famous shipwreck.
More than 5,500 items including fine china, ship fittings and portions of hull that were recovered from the ocean liner have an estimated value of $189 million (146 million euros), according to Premier Exhibitions Inc., parent of RMS Titanic Inc. — the Titanic's court-approved salvor. That value was based on a 2007 appraisal and does not include intellectual property gathered from a 2010 scientific expedition that mapped the wreck site.
The auction is scheduled for April 1 by Guernsey's, a New York City auction house, according to filings by Premier Exhibitions Inc. with the Securities and Exchange Commission. Results of the auction won't be announced until April 15, the date a century ago the Titanic sank on its maiden voyage after striking an iceberg.
The auction is subject to approval by a federal judge in Virginia whose jurisdiction for years has given oversight to legal issues governing the salvage of the Titanic. The Titanic treasures were amassed during seven perilous trips to the wreck, which rests about 2 1/2 miles below the ocean surface in the North Atlantic.
A spokeswoman for the auction house and Premier Exhibitions declined Wednesday to discuss the auction with The Associated Press until a formal announcement in January.
The Titanic's sinking claimed the lives of more than 1,500 of the 2,228 passengers and crew. An international team led by oceanographer Robert Ballard located the wreckage in 1985, about 400 miles (645 kilometers) off Newfoundland, Canada.
U.S. District Judge Rebecca Beach Smith, who has overseen the case from her Norfolk courtroom, has ruled that RMS Titanic has title to the artifacts and was entitled to full compensation for them. She has not determined how RMS Titanic will be compensated.
Smith, a maritime jurist who has called the Titanic an "international treasure," has approved covenants and conditions that the company previously worked out with the federal government, including a prohibition against selling the collection piecemeal.
The conditions, which accompanied a 2010 ruling, also require RMS to make the artifacts available "to present and future generations for public display and exhibition, historical review, scientific and scholarly research, and educational purposes."
Atlanta-based Premier Exhibitions has been displaying the Titanic artifacts in exhibitions around the world. The items include personal belongings of passengers, such as perfume from a manufacturer who was traveling to New York to sell his samples.
RMS recovered artifacts from the shipwreck in expeditions in 1987, 1993, 1994, 1996, 1998, 2000 and 2004.
In its SEC filing, Premier acknowledged any future owner of the Titanic treasures must abide by the covenants and conditions.
In accordance with court's conditions, "The Property will be sold as a complete collection and offered for sale as one lot," Guernsey's wrote in the SEC filing, which outlines the terms of the auction. The auction house's commission is 8 percent of a successful bid.
In 2010, RMS Titanic collaborated with some of the world's leading experts in the most technologically advanced expedition to the Titanic, undertaking the first comprehensive mapping survey of the vessel with 3-D imagery from bow to stern.
Some of the never-before-seen images were shown in Smith's courtroom. The most striking images involved the 3-D tour of the Titanic's stern, which lies 2,000 feet from the bow.
A camera in a remote-controlled submersible vehicle skimmed over the stern, seemingly transporting viewers through scenes of jagged rusticles sprouting from the deck, a length of chain, the captain's bathtub, and wooden elements that scientists had previously believed had disappeared in the harsh, deep ocean environment.
The cameras did not probe the interior of the wreck. But the expedition fully mapped the 3-by-5-mile (5-by-8 kilometer) wreck site, documenting the entire debris field for the first time.
The new images will ultimately be assembled for public viewing, scientists said, and to help oceanographers and archaeologists explain the ship's violent descent to the ocean bottom. It is also intended to provide answers on the state of the wreck, which scientists say is showing increasing signs of deterioration.
"Titanic" director James Cameron also has led teams to the wreck to record the bow and the stern.
The Titanic exhibit is among several operated by Premier Exhibitions, which bills itself as "a major provider of museum-quality touring exhibitions." Its offerings have included sports memorabilia, a traveling Star Trek homage and "Bodies," an anatomy exhibit featuring preserved human cadavers.
___
Online:
RMST Inc.: http://www.titanic-online.com
___

12 Agustus 2011

Bank Indonesia Terbitkan Pecahan Rp.200.000,- ????

Depok, 12 Agustus 2011
Akankah BI Edarkan Rupiah Pecahan Rp 200 ribu

Di tengah krisis finansial di AS dan Eropa terbetik berita Bank Indonesia akan segera mengedarkan pecahan rupiah baru Rp 200.000.

Rencana yang sudah pasti dan telah diumumkan adalah bahwa BI akan melakukan redenominasi, atau penghilangan tiga buah 0, di belakang angka rupiah, yang persiapannya telah dimulai tahun ini juga. Terbitnya rupiah baru yang 'gundul' itu sendiri, kabarnya, baru akan dilakukan pada 2014. Nah, di tengah berjalannya redenominasi ini terbetik kabar bahwa BI akan segera mengedarkan rupiah baru, dengan pecahan RP 100 ribu, berwarna biru, dan satuan baru yang lebih besar, yaitu Rp 200.000!

'Menurut rencana kedua mata uang rupiah baru ini akan diedarkan bulan Oktober 2011, tapi mungkin dipercepat sebelum lebaran 1432 H ini tiba,' ujar sumber WIN, yang banyak memiliki informasi seputar mata uang kertas dan BI.

Bagi kita, ini tentu menimbulkan pertanyaan: ada apa? Kalau rupiah mau 'digunduli', kok, malah terbit uang dengan satuan lebih besar? Dan, mengapa diedarkan menjelang lebaran?

Yang sudah bisa dipastikan adalah infalsi yang sudah semakin melucuti nilai tukar rupiah, membuat uang Rp 100 ribu, sudah semakin kecil daya belinya. Maka, cara mengatasi yang paling mudah, bagi bank sentral, adalah menerbitkan uang kertas dengan satuan yang semakin besar.

Nah, kalau sudah keluar uang kertas Rp 200.000, akankah kita menuju super-hiperinflasi seperti Zimbabwe? Yang pasti, semakin besar nilai rupiah yang diedarkan, semakin miskinlah, dan bukan semakin kaya, para pemakainya! Itulah sihir dalam uang kertas.
(001)

sumber : www.wakalanusantara.com

14 Juli 2011

Enam Abad Dinar Dirham Made in Indonesia

oleh :
Sufyan al Jawi - Numismatik Indonesia
Sebagian besar dari kita mungkin tak pernah tahu kalau Dinar dan Dirham pernah dibuat dan berlaku di Indonesia sebagai mata uang resmi.



Ya, sejak abad ke-14 nenek moyang kita telah akrab dengan kedua jenis mata uang ini. Dinar dan Dirham pernah mendominasi pasar-pasar di sebagian besar Nusantara, antara lain di Pasai, Malaka, Banten, Cirebon, Demak, Tuban, Gresik, Gowa, dan Kepulauan Maluku.
Dinar AcehDalam buku Ying Yai Sheng Lan karya Ma Huan, sang juru tulis dan penterjemah Laksamana Muslim Cheng Ho dari Cina saat muhibah ke Sumatera Utara (1405 - 1433), disebutkan bahwa mata uang Samudera Pasai adalah Dinar emas dengan kadar 70 persen dan mata uang keueh dari timah (1 Dinar = 1.600 keueh). Pasai telah mencetak Dinar pertamanya pada masa Sultan Muhammad (1297-1326) dengan satuan mas yang sepadan dengan 40 grains atau 2,6 gram.
Pada masa Sultan Ahmad Malik Az-Zahir koin Dinar lebih dikenal sebagai Derham mas, dicetak dalam dua pecahan yaitu Derham dan setengah Derham (1346-1383). Setelah Aceh menaklukkan Pasai (1524) tradisi mencetak Derham mas menyebar ke seluruh Sumatera, bahkan semenanjung Malaka. Derham ini tetap berlaku sampai bala tentara Nippon mendarat di Seulilmeum, Aceh Besar pada tahun 1942. Sampai hari inipun di Sumatera Barat masih dijumpai pemakaian satuan mas (1 mas = 2,5 gram) sebagai unit jual beli, terutama untuk tanah.
Dinar Aceh2Dinar juga dibuat oleh kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan, pertama kali pada tahun 1595, pada masa Sultan Alaudin Awwalul Islam (1593-1639) dengan Dinar seberat 2,46 gram emas. Dinar Gowa yang paling banyak beredar adalah Dinar Sultan Hasan Al-din yang bertuliskan huruf Arab: Khada Allah Malik Wa Sultan Amin artinya Pejuang Allah Kerajaan Sultan Amin. Yang menyebar dari Ternate, Tidore, Minahasa, Butung, Sumbawa, Gowa Talo, bahkan Papua. Koin ini beredar dari tahun 1654-1902. Saat ini, seperti di Sumbar, tradisi jual beli dengan satuan mas juga masih berlaku di Sulawesi Selatan.
Dirham InggrisDi Jawa Dinar dan Dirham dicetak oleh Kesultanan Mataram pada tahun 1600-an, kemudian oleh VOC sejak tahun 1744 di percetakan uang Batavia yang di desain oleh Theodorus Justinus Rheen. Berdasarkan perjanjian VOC-Mataram, Dinar dicetak seberat 16 gram emas dengan kadar 75 persen dan dinamakan Mahar, sedang Dirham dicetak seberat 6,575 gr dan, dalam sebutan rupiah, dicetak seberat 13,15 gr. Dirham dan rupiah terbuat dari perak dengan kadar 79 persen.
Dirham BelandaIni yang menarik: pada kedua sisi koin tercetak Derham min Kumpani Welandawi dan Ila djazirat Djawa al kabir yang ditulis dengan huruf arab, yang artinya Dirham dari Perusahaan Belanda untuk pulau Jawa Besar. Adapun uang recehan VOC dinamakan doit Jawa (Duit VOC). Setiap 80 duit sama dengan 1 Rupiah (setara 2 Dirham). Lalu tiap 16 Rupiah disebut sebagai satu mahar. Selain itu di Jawa juga dibuat pula derham Inggris (1813-1816) dengan tulisan Jawa kuno: Kempni Hinglis, Jasa hing sura-Pringga. Di baliknya tertulis dengan huruf Arab Melayu: Hinglis, sikkah kompani, sannah AH 1229 dhuriba, dar dhazirat Djawa di desain oleh Johan Anthonie Zwekkert.
DeJavache Bank moneyKedua jenis Derham kompeni ini baik buatan VOC maupun EIC beredar sampai tahun 1860, yaitu setelah berdirinya De Javasche Bank di Batavia pada tanggal 10 Oktober 1827, ketika Pemerintah Hindia Belanda telah mengimpor Gulden secara besar-besaran dari Eropa. Artinya pihak penjajah pun mengakui dan memproduksi Dinar dan Dirham sebagai mata uang yang sah selama 116 tahun, sementara Gulden sendiri baru dibuat oleh penjajah Hindia Belanda setelah tahun 1826 di Negeri Belanda. Jadi, sejak berdirinya VOC, Gulden kalah bersaing melawan real Mexico dan Derham Nusantara.
Setelah perang Jawa atau perang Diponegoro (Mei 1825-Maret 1830), kondisi keuangan pemerintah Hindia Belanda morat marit. Perang ini menelan biaya lebih dari 20 juta Gulden atau setara 40 juta Derham Jawa. Guna memulihkan keuangannya, penjajah ini menarik seluruh Derham kompeni, namun penduduk pribumi enggan menukar Derham mereka dengan uang kertas berjamin tembaga (kopergeld), sehingga masa penukaranpun menjadi molor selama 28 tahun (1832-1860)!. Upaya lainnya dari VOC untuk mengisi kekurangan Kas Negara adalah diterapkannya sistem tanam paksa (Cultur Stelsel) oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch selama kurun 1863-1919.
Pada tahun 1873, Hindia Belanda mulai melakukan misi penaklukan Aceh, dan terjadilah perang panjang yang terkenal dengan nama Perang Aceh, Prang Gompeuni, Prang Sabi dan Prang Kaphe (1873-1942). Belanda belum dapat menguasai Aceh sepenuhnya. Secara de jure gulden adalah satu-satunya mata uang yang sah. Tapi secara de facto Derham mas Aceh adalah satu-satunya mata uang yang dapat diterima oleh penduduk Aceh, bahkan berlaku pula di Sumatera Barat dan Deli!
Selanjutnya, ketika berkuasa, pemerintah Dai Nippon terpaksa menerapkan lebih tegas UU No. 2 tanggal 8 Maret 2602 (tahun Jepang Kooki atau tahun 1942) tentang mata uang. Semua mata uang dengan digantikan oleh uang kertas Dai Nippon! Ketika Indonesia merdeka, pada tanggal 26 Oktober 1946, Presiden Sukarno dan Menkeu Sjafroedin Prawiranegara menerbitkan UU No. 19 tentang penerbitan ORI (Oeang Repoeblik Indonesia) dengan dasar 10 rupiah = 5 gr emas murni.
Rakyat menyambut antusias atas terbitnya rupiah republik ini. Sebuah harapan besar akan masa depan yang cerah. Meski kakek nenek kita harus rela dijatah hanya boleh memegang 50 rupiah setiap keluarga, untuk kemudian rupiah Jepang dimusnahkan oleh Pemerintah. Tetapi pada prakteknya dasar hukum UU No. 19 tersebut telah dilanggar sendiri oleh Pemerintah kita sehingga kita mendapati rupiah seperti sekarang ini. Tak ada jaminan emasny alagi. Dan harga emas, pada pertengahan tahun 2009, ini bukan lagi Rp 2/gram, tetapi di atas Rp 320.000/gram, yang artinya nilai rupiah kita dibuat merosot lebih dari 160.000 lebih rendah!
Jelas Dinar-Dirham pernah berjaya selama lebih dari 600 tahun (1302-1942), tak hanya di Aceh dan sebagian Sumatera tetapi juga di Sulawesi Selatan dan sebagian daerah di Jawa Timur. Maka, peredaran kembali Dinar Dirham di wilayah Indonesia sekarang ini, bukanlah sesuatu yang asing dan aneh.

Sumber : wakalanusantara.com

*Sofyan Al Jawi numismatis dan penulis buku Kemilau Investasi Dinar Dirham

Link  Lainnya
Koin Dirham dijual

Sejarah Singkat Dinar Emas dan Dirham Perak

Pada masa awalnya Muslimin menggunakan emas dan perak berdasarkan beratnya dan Dinar Dirham yang digunakan merupakan cetakan dari bangsa Persia.

Koin awal yang digunakan oleh Muslimin merupakan duplikat dari Dirham perak Yezdigird III dari Sassania, yang dicetak dibawah otoritas Khalifah Uthman, radiy’allahu anhu. Yang membedakan dengan koin aslinya adalah adanya tulisan Arab yang berlafazkan “Bismillah”. Sejak saat itu tulisan “Bismillah” dan bagian dari Al Qur’an menjadi suatu hal yang lazim ditemukan pada koin yang dicetak oleh Muslimin.

Sebagaimana telah diketahui bersama, bahwa standar dari koin yang ditentukan oleh Khalif Umar ibn ak-Khattab, berat dari 10 Dirham adalah sama dengan 7 Dinar (1 mithqal). Pada tahun 75 Hijriah (695 Masehi) Khalifah Abdalmalik memerintahkan Al-Hajjaj untuk mencetak Dirham untuk pertama kalinya, dan secara resmi beliau menggunakan standar yang ditentukan oleh Khalifah Umar ibn Khattab. Khalif Abdalmalik memerintahkan bahwa pada tiap koin yang dicetak terdapat tulisan: “Allahu ahad, Allahu samad”. Beliau juga memerintahkan penghentian cetakan dengan gambar wujud manusia dan binatang dari koin dan menggantinya dengan huruf-huruf.

Perintah ini diteruskan sepanjang sejarah Islam. Dinar dan Dirham biasanya berbentuk bundar, dan tulisan yang dicetak diatasnya memiliki tata letak yang melingkar. Lazimnya di satu sisi terdapat kalimat “tahlil” dan “tahmid”, yaitu, “La ilaha ill’Allah” dan “Alhamdulillah” sedangkan pada sisi lainnya terdapat nama Amir dan tanggal pencetakkan; dan pada masa masa selanjutnya menjadi suatu kelaziman juga untuk menuliskan shalawat kepada Rasulullah, salallahu alayhi wa salam, dan terkadang, ayat-ayat Qur’an.

Koin emas dan perak menjadi mata uang resmi hingga jatuhnya kekhalifahan. Sejak saat itu, lusinan mata uang dari beberapa negara dicetak di setiap negara era paska kolonialisme dimana negara negara tersebut merupakan pecahan dari Dar al Islam.

Sejarah telah membuktikan berulang kali bahwa uang kertas telah menjadi alat penghancur dan menjadi alat untuk melenyapkan kekayaan uamt Muslim. Perlu diingat bahwa Hukum Syariah Islam tidak pernah mengizinkan penggunaan surat janji pembayaran menjadi alat tukar yang sah
[Sumber : wakalanusantara.com]